Solo Traveling ke Lombok [Day 1]: Kelilingi Senggigi

Februari 28, 2019


Kalau dihitung-hitung, ini ketiga kalinya saya mengunjungi Lombok. Tapi baru benar-benar bisa main keliling pulaunya ya di trip kali ini. Kunjungan pertama waktu itu, saya cuma mendaki Gunung Rinjani. Yang kedua, cuma transit bentar di bandara untuk ke Sumbawa dalam rangka pendakian Gunung Tambora. Jadi ya, saya sangat excited bisa kembali lagi ke Lombok!

Kebetulan juga, tanggal 24-25 Februari kemarin bertepatan dengan diadakannya salah satu festival adat tahunan terbesar di Pulau Lombok. Mau tau festival apa? Baca sampe habis ya..

So here where the story begins..


Perjalanan saya kali ini, masih solo aja, alias sendirian. Tadinya mau ngajak temen di sana, tapi dianya malah mau pelesir keluar Lombok. Sempet ragu dan takut juga ya sebenernya mau jalan sendiri di sana. Bukan karena pasca gempa atau apa, tapi lebih ke kejahatan di jalan kayak begal dan perampokan. Soalnya saya pernah baca di sana ada turis yang dibegal di jalanan sepi, padahal waktu itu siang hari bolong! Kan serem ya. Namun karena tekad sudah bulat, (dan udah sakaw butuh liburan), saya memutuskan untuk tetap pergi sembari berdoa diberi keselamatan oleh Yang Mahakuasa. Amin~

Masalah lain yang juga mengganggu adalah ... tiket ke Lombok sekarang mahal banget! *cry

It’s been a while sejak terakhir kali saya naik pesawat. Waktu itu masih adem ayem aja ya harga tiketnya dan penerbangan di Indonesia juga masih “aman-aman saja”. Jadinya kemarin saya cukup terhenyak, sebab kenaikan harga itu memang nyata adanya! Dulu saya masih bisa dapet tuh tiket Surabaya-Lombok seharga Rp300.000-an, tapi sekarang, tiket termurah bahkan dari maskapai Singa itu udah Rp600.000-an, untuk semua jam penerbangan. *cryagain

Belum lagi masalah bagasi berbayar yang membuat saya harus memutar otak biar bawaan saya ngga masuk bagasi! Biayanya lumayan lho, dan petugas-petugas sekarang nampaknya sangat fierce untuk menanyai barang bawaan kita. Namun pabila terpaksa ada bagasi, saya dikasih saran oleh mas-mas di counter check-in, kalau harga prepaid baggage di travel agent (seperti Traveloka, dsb) itu jatuhnya lebih murah ketimbang bayar langsung di counter. Entah betul atau tidak, tapi kalau saran saya sih, selain mengurangi barang bawaan, cobalah untuk berkelit dan baik-baikin si petugasnya, siapa tau Anda beruntung. It works for me, sometimes.

Well singkat cerita, sampailah saya di Pulau Lombok. Yeay! Dan begitu mendarat, kita akan langsung disambut dengan pemandangan khas Bandara Lombok, yaitu burung-burung yang berterbangan di dalam gedung bandara.

Hari pertama, saya mau main di daerah Senggigi. Jadi dari bandara, saya naik bus Damri ke arah Senggigi dengan biaya sebesar Rp35.000. Perjalanan ke Senggigi memakan waktu sekitar satu jam. Dan begitu mendekati wilayah Senggigi, kita akan disambut dengan pemandangan laut lepas yang sangat cantik di sisi jalan!

Senggigi

Selama di Senggigi, saya menginap di Lina Cottage (kalau di maps namanya “Hotel Lina Senggigi”) dengan harga per malamnya Rp250.000-an, termasuk sarapan. Hotelnya bersih, nyaman, pas di pinggir laut. Lokasinya di pusat Senggigi, jadi kalau naik Damri bisa langsung turun di depan hotelnya. Menurut saya sih cukup recommended ya. Dan selama di Lombok, saya nyewa motor dari Lombok Transporter (kantornya ada di Senggigi) dengan harga sewa Rp80.000/24 jam. Agak mahal sih ya, soalnya persewaan lain yang lebih murah udah pada abis. Kata mas-mas di Lina Cottage, sebenernya kita bisa dapet yang lebih murah kalau kita bisa nawar. Bisa dapet sekitar Rp60.000-an per hari.

Sehabis bongkar muatan, bersih-bersih, dan gegoleran di kasur, saya pun berangkat ke destinasi pertama, yaitu Pantai Nipah. Jaraknya sekitar 20 menit motoran dari Lina Cottage ke arah utara.

Btw, itinerary saya selama di Lombok ini saya susun dari hasil baca-baca berbagai blog dan situs wisata ya. Saya cari yang emang jaraknya ngga terlalu jauh dari penginapan, yang mudah dijangkau,  dan yang paling direkomendasikan dari situs-situs tersebut.

Harus saya akui, saya sangat sangat menikmati berkendara di Lombok. Jalanannya mulusss banget! Sangat jarang saya menemui lubang di aspal. Dan di sepanjang perjalanan, kita akan senantiasa dimanjakan dengan pemandangan lanskap Lombok yang tidak perlu diragukan lagi kecyantikannya!

I was expecting to see sisa-sisa kejadian gempa beberapa waktu lalu ya, tapi ternyata ngga ada sama sekali dan udah bersih banget.

Sesampainya di Pantai Nipah, ternyata saya ngga ditarik biaya apa-apa. Bahkan parkir pun engga. Entah saya yang salah pintu masuk, atau mereka mengira saya penduduk lokal, karena waktu itu saya emang cuma pakai kaos polos sama celana pendek aja. Ngga ada model-model turis sama sekali. Atau emang ngga ada biaya masuknya, I don't know.

Pantai Nipah

Suasana Pantai Nipah waktu itu juga lumayan sepi. Kayaknya ngga ada wisatawan lain selain saya. Tapi kalau dilihat-lihat sih, pantai ini emang lebih digunakan sebagai tempat bersandar kapal-kapal nelayan ya. Banyak banget soalnya kapal yang parkir di sepanjang pantai. Tapi masih ada beberapa spot yang cantik buat foto-foto kok.

Pantai Nipah

Ngapain mas?

Pantai Nipah

Next, saya main ke Malimbu Hill. Jaraknya sekitar 6 menit dari Pantai Nipah ke arah selatan. Saya agak kesulitan sebenernya nemuin tempat ini, karena foto-foto yang beredar di internet agak berbeda dengan lokasi aktual di sana. Entah mereka yang salah nge-tag lokasi, atau memang saya yang salah tempat.

Jadi kalau di internet atau Instagram, bentuk Malimbu Hill itu ya sebuah bukit dengan pohon-pohon kelapa di sisinya. Tapi waktu saya sampai di lokasi (yang ditunjuk GoogleMaps), bentuk Malimbu Hill itu ternyata sebuah tikungan jalan raya dengan pagar biru di sisinya, dimana kita bisa menikmati pemandangan laut lepas. Di sekitar situ juga banyak pedagang makanan dan minuman.

Malimbu Hill (?)

Akhirnya, saya tanya-tanya ke salah seorang pedagang di lokasi tersebut dan beliau bilang, ya memang betul tempat itu namanya Malimbu Hill. Jadi semacam lookout point untuk melihat pemandangan saja, dan lokasinya memang ada di ketinggian.

View from Malimbu Hill

Nah, pas saya tanya tempat yang ada bukit dan pohon-pohon kelapa itu, beliau bilang tempatnya ada di Bukit Malaka yang jaraknya sekitar 2 km dari Malimbu Hill ke arah utara. Patokannya adalah pagar biru, sama seperti di Malimbu itu. So, setelah foto-foto bentar di Malimbu, saya pun balik arah lagi dan bergerak menuju Bukit Malaka.

Malaka Hill

View from Malaka Hill

Sesampainya di Bukit Malaka, akhirnya saya ketemulah dengan bukit yang mirip dengan foto-foto yang beredar, meskpun bentuknya agak beda sih. Posisinya pun agak tersembunyi. Dari sudut tikungan jalan itu, di sebelah warung-warung, ada jalan kecil yang berujung pada bukit kecil dengan pohon-pohon kelapa di sisinya. Bukit tersebut langsung berbatasan dengan laus lepas. Awalnya sempet ragu, bener atau engga tempatnya sama. Tapi ya udah lah ya, Bukit Malaka ini juga bagus kok. Tapi panas banget gais!

Malaka Hill

Malaka Hill

Malaka Hill

Hari menjelang sore, saya pun beranjak dari Bukit Malaka ke tempat lain yang (katanya) cukup hits untuk melihat sunset, yakni Villa Hantu. Jaraknya sekitar 10 menit ke arah selatan.

Villa Hantu

Tempat ini dinamai Villa Hantu bukan karena banyak hantunya ya, tapi karena tempat ini merupakan sebuah vila yang pembangunannya terbengkalai alias ngga dilanjutin. Kabarnya sih izin pembangunannya bermasalah. Jadi ya cuma ada kerangka-kerangka bangunannya aja. Ngga tau deh kalo malem berhantu beneran atau engga. Tapi yang jelas, dari sini kita bisa menikmati pemandangan sunset Senggigi yang cantik banget! Untuk tiket masuknya gratis, kita hanya perlu bayar parkir Rp2.000.

Villa Hantu

Waktu saya sampai di sana, cuaca sudah sangat mendung. Dan benar juga, beberapa menit kemudian hujan pun turun dengan derasnya. Jadilah saya terjebak di tempat ini. Awalnya saya sendirian, tapi kemudian datang beberapa wisatawan lain yang juga berteduh di sini. Ada kali dua jam-an saya di Villa Hantu ini. Dan begitu hujan mulai reda, kami dihadiahi dengan pemandangan sunset yang, meskipun agak gloomy, tapi tetap cantik!

Sunset at Villa Hantu

Untuk menutup perjalanan di hari pertama, saya mengunjungi satu destinasi lagi, namanya Pantai Klui. Pantai ini terkenal dengan pemandangan pohon-pohon kelapa-nya yang berjajar rapih di sekitar pantai. Jaraknya dari Villa Hantu sekitar 5 menit aja ke selatan, searah juga dengan penginapan saya. Untuk tiket masuknya, dibanderol Rp5.000 per motor. Sementara kalau mau nginep dan buka tenda ada biaya tambahannya lagi.

Pantai Klui

Pantai Klui

Pantai Klui
Pantai Klui

Sesampainya di bibir Pantai Klui, matahari sudah hampir menghilang di garis horizon. It was a beautiful scene! Ditambah dengan latar pohon-pohon kelapa yang menambah cantiknya pantai ini. Banyak wisatawan yang sekadar duduk-duduk manja sambil bercengkerama di sepanjang pantai untuk menikmati perjalanan sang matahari kembali ke peraduannya. Sementara aku ya, menikmati semuanya sendiri. :')

Sendirian aja mba? Sama dong

Pantai Klui

What a nice way to end the day.
Hari berikutnya, saya mau main ke spot-spot di daerah selatan Lombok. Mau tau kemana aja? Stay tune...

Seeya

Epilog:
Saat hari menggelap, saya pun memacu motor ke penginapan. Antara takut sama kedinginan juga. Dan tanpa dinyana, udah deket banget dari hotel, hujan turun dengan derasnya! Mau pake jas hujan juga udah nanggung, akhirnya basahlah seluruh badan ini pas sampai di hotel.

You Might Also Like

0 comments

Diberdayakan oleh Blogger.