Rabu, 17 Agustus, sekitar pukul 00.30 dini hari. Berbeda
dari Pos 3 sebelumnya, di Plawangan itu suhunya duingin banget. Saya sampe
susah mau tidur. Kami dibangunin sama abang-abang porter yang udah asik masak-masak
di luar tenda. Gile dah ini abang, dingin-dingin kayak gitu cuman pake kaos
sama jaket tipis doang. Saya aja udah pake baju rangkep-rangkep masih menggigil.
Kami lalu menyantap ‘sarapan’ nasi + mie goreng buatan abang porter. Setelah
perut terisi, kami lantas siap-siap buat berangkat. Hari itu, bertepatan dengan
Hari Kemerdekaan Indonesia, kami bertekad untuk berjuang mencapai titik
tertinggi Pulau Lombok, Puncak Gunung Rinjani. 3.726 mdpl!
Selasa, 16 Agustus, pagi hari. Saya terbangun dari tidur yang
lelap karena kebelet pipis. Begitu keluar tenda, udara pegunungan yang sejuk
langsung menyambut saya. Sejuk, tapi nggak terlalu dingin. Setelah
keliling-keliling sebentar, alhamdulillah, saya ketemu rerumputan yang cukup
tinggi dan aman untuk melepaskan ‘hasrat yang terpendam’. Tampak
pendaki-pendaki lain sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang
masak, rapih-rapih tenda, ada juga yang mulai berangkat jalan. Sekitar jam
08.00-09.00 saya sama anak-anak juga udah siap buat ngelanjutin perjalanan. Sarapan
udah, beberes tenda udah, semua printilan juga udah di-packing. Dan target kita hari itu adalah sampai ke Plawangan Sembalun!
Senin, 15 Agustus, pukul 02.00 dini hari. Kami masih asyik
ngobrol di basecamp, sambil minum teh
panas yang dibuatin mamak yang punya rumah. Rencananya kami berangkat pagi-pagi
(padahal udah pagi) ke Desa Sembalun,
salah satu “pintu masuk” pendakian Gunung Rinjani. Tapi itu cuman rencana ya...
((rencana)). Karena realisasinya, seperti yang udah bisa ditebak, akhirnya
molor juga. Pftt. Kami baru bangun sekitar jam 07.00, terus mandi, sarapan, rapihin
packingan, dan tetek bengek lainnya. Sampai
akhirnya kami baru bener-bener berangkat sekitar jam 09.00. Hhe
Diberdayakan oleh Blogger.