Perjalanan kami mendaki Gunung
Tambora masih berlanjut. Di hari kedua ini, kami berencana untuk jalan
sampai Pos 3, dan keesokan harinya
ke Pos 4, Pos 5, dan summit attack!
So here where our
story continues...
Tambora...
Begitu mendengar namanya, kita pasti langsung teringat
dengan erupsi dahsyatnya dua ratus tahun silam. Letusan yang terdengar
hingga 2.000
km jauhnya tersebut memotong ketinggian Gunung Tambora hingga tersisa sepertiganya (awal ±4000 m, kini 2.851 m). Letusan tersebut turut memusnahkan tiga kerajaan di Pulau Sumbawa, memakan ratusan ribu korban jiwa, serta mengubah iklim dunia sehingga dikenal dengan "Tahun Tanpa Musim Panas".
Letusan Gunung Tambora merupakan salah satu letusan terdahsyat yang pernah tercatat, dengan Indeks Letusan/Volcanic Explosivity Index (VEI) 7—setara 800 megaton TNT, lebih tinggi dari letusan Gunung Krakatau yang memiliki VEI-6. Letusan ini menyebabkan gelombang tsunami sampai ke Pulau Jawa, Kepulauan Maluku, dan menciptakan sebuah danau di Pulau Satonda (±30 km barat laut Tambora).
Sementara di belahan bumi lain, selain bencana kelaparan, efek beragam muncul akibat meletusnya Gunung Tambora. Mulai dari penemuan sepeda (karena banyaknya kuda yang mati), kemudian tercetusnya migrasi dan pergerakan anti-perbudakan di Amerika, lalu lukisan-lukisan pada waktu itu yang gambar mataharinya tampak lebih oranye (karena tertutup debu), hingga menginspirasi terciptanya novel horor "Frankenstein" karya Mary Shelley, puisi "Darkness" oleh Lord Byron, dan bibit-bibit cerita Drakula dan Vampire setelahnya.
Sementara di belahan bumi lain, selain bencana kelaparan, efek beragam muncul akibat meletusnya Gunung Tambora. Mulai dari penemuan sepeda (karena banyaknya kuda yang mati), kemudian tercetusnya migrasi dan pergerakan anti-perbudakan di Amerika, lalu lukisan-lukisan pada waktu itu yang gambar mataharinya tampak lebih oranye (karena tertutup debu), hingga menginspirasi terciptanya novel horor "Frankenstein" karya Mary Shelley, puisi "Darkness" oleh Lord Byron, dan bibit-bibit cerita Drakula dan Vampire setelahnya.
Kisah-kisah mengenai Tambora inlah yang akhirnya memantik
hasrat saya untuk—paling tidak— menapaki jejak-jejak keagungan gunung tersebut. Dan jujur,
di perjalanan kali ini, untuk pertama kalinya saya benar-benar merasakan apa yang dinamakan “mendaki”.
And here where our
story begins...
Sungguh disayangkan pabila ada hari kejepit, namun tidak
dimanfaatkan untuk berlibur, ya kan?
Seperti pada tanggal 22 September lalu, sehari setelah tanggal merah Tahun Baru Islam, saya akhirnya ambil
cuti. Lagi. And this time, I’m so excited
karena saya mau naik gunung lagi. Yey!
Tujuan saya kali ini adalah salah satu gunung legendaris di
Indonesia. Gunung yang letusannya pada 200 tahun lalu menjadi salah satu erupsi
terdahsyat selama 10.000 tahun terakhir!
Yup, it’s Mt. Tambora!
Dan semakin bersemangat kerana saya akan ditemani my crazy friends from college @dentajaya
& @yuanggafp.
So, here where our
story begins...
Setelah ±10 menit mengarungi lautan, kami pun
tiba di Nusa Ceningan. Di antara
ketiga trio nusa, Penida adalah
pulau yang paling luas. Dan tempat ini menyimpan banyak spot indah untuk dijelajahi. Mau kemana aja yes kami di Nusa Penida?
Kami melanjutkan perjalanan, kembali ke Nusa Lembongan. Berhubung hari sudah semakin sore,
kami memutuskan untuk langsung mengunjungi salah satu destinasi paling terkenal di
Lembongan, sekaligus jadi tempat kami untuk menikmati sunset.
Bali... Bali... Bali.
Rasa-rasanya tidak ada habisnya tempat yang satu ini untuk
dijelajahi. Selalu ada hal-hal menarik yang menjadi magnet bagi wisatawan lokal
maupun mancanegara. Baik itu destinasi baru, maupun destinasi yang sudah punya
nama. Bali akan selalu mendapat tempat istimewa di hati setiap mereka yang
mengunjunginya.
Seperti saya, yang beberapa waktu lalu berkesempatan untuk
mengunjungi Pulau Dewata ini lagi, tepatnya
pada tanggal 17—19 Agustus 2017 (cuti sehari di tanggal 18). Namun yang
berbeda, kali ini saya tidak berkelana di daratan pulau Bali!
Saya agak melipir ke arah tenggara, menyeberangi Selat
Badung, menuju tempat yang lebih tenang, jauh dari ke-hectic-an Pulau Bali...
Tau dimana?
Diberdayakan oleh Blogger.


